Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara

Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara – Pada kesempatan ini admin tarokutu.com akan berbagi beberapa Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara. Berikut penjelasan lengkapnya.

Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara

Perkembangan Islam di Sumatera

Sejak abad ke-7 M, kawasan Asia Tenggara telah bersentuhan dengan tradisi Islam. Ini terjadi karena para pedagang muslim, yang berlayar di kawasan ini, singgah untuk beberapa waktu. Di Indonesia, kehadiran Islam secara lebih nyata terjadi sekitar akhir abad 13 M, yakni dengan bukti adanya makam Sultan Malik al-Saleh yang terletak di kecamatan Samudera di Aceh Utara. Pada makam tersebut tertulis bahwa ia wafat pada bulan Ramadhan tahun 696 H/1297 M. Dalam Hikayat Raja­raja Pasai dan Sejarah Melayu Malik, dua teks Melayu tertua Malik al-Saleh digambarkan sebagai penguasa pertama Kerajaan Samudera Pasai.Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara

Untuk menjustifikasi teori ini, Moquette membandingkan data di atas dengan data historis yang lain, yaitu catatan Marco Polo yang mengunjungi Perlak dan tempat lain di wilayah ini pada tahun 1292 M. Selama berlangsungnya proses Islamisasi, persentuhan pedagang muslim dengan penduduk setempat telah terjalin sangat intens hingga sebuah kerajaan Islam berdiri pada abad ke-13 M, yakni kerajaan Samudera Pasai. Berdirinya kerajaan tersebut bisa dihubungkan dengan lemahnya kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-12 dan ke-13 M, sebagaimana dituturkan oleh Chou-Chu-Fei dalam catatan Ling Wa­ Ta i Ta (1178 M). (Tjandrasasmita, 13-14).

Berdirinya kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M merupakan bukti masuknya Islam di Sumatera. Selain kerajaan Samudera Pasai, ada kerajaan Perlak dan kerajaan Aceh. Pada tahun 1978, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Nasional Indonesia telah menemukan sejumlah batu nisan di situs Tuanku Batu Badan di Barus. Yang terpenting dari temuan itu adalah makam yang mencantumkan sebuah nama, yaitu Tuhar Amsuri, yang meninggal pada 19 Shafar 602 H, sebagaimana ditafsirkan oleh Ahmad Cholid Sodrie dari Pusat Riset Arkeologi Nasional. Tapi ada juga penafsiran lain yang mengemukakan bahwa Tuhar Amsuri meninggal pada 19 Shafar 972. Dari temuan arkeologis di Barus  itu, dapat dikatakan bahwa usia batu nisan Tuhar Amsuri yang tertanggal 602 adalah lebih awal dari batu nisan Sultan Malik As-Salih yang tertanggal 696 H. Ini berarti, jauh sebelum kerajaan Samudera Pasai, sudah ada masyarakat muslim yang tinggal di Barus, salah satu tempat di sekitar pantai barat Sumatera (Tjandrasasmita, 15-16).

Perkembangan Islam di Kalimantan

Penduduk asli Pulau Kalimantan disebut masyarakat Dayak. Orang Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan terdiri atas beberapa suku. Masing-masing suku mempunyai sistem kepercayaan sendiri. Tetapi pada dasarnya antar kepercayaan mereka itu mempunyai banyak persamaan. Istilah paling populer untuk menyebut aliran kepercayaan mereka adalah kepercayaan Kaharingan.

Penduduk asli Kalimantan pada proses selanjutnya banyak yang terdesak ke arah pedalaman akibat masuknya masyarakat lain dari luar. Di arah pesisir barat terdesak oleh orang-orang Melayu dan China; di bagian selatan terdesak oleh orang-orang Melayu dan orang-orang Jawa; dan di bagian tenggara terdesak oleh orang-orang Bugis, Makasar dan Sulu. Masyarakat Dayak yang mendiami daerah-daerah pedalaman Kalimantan tersebut dapat dibagi atas 7 macam suku, yakni:

  1. Suku Dayak Kenya dan Bahau yang mendiami pedalaman Mahakam.
  2. Suku Dayak Punan, yang mendiami pedalaman daerah Berau.
  3. Suku Dayak Siang, yang mendiami pedalaman Barito Hulu.
  4. Suku Dayak Kayan, yang mendiami perbatasan Serawak.
  5. Suku Dayak Iban dan Kalimantan, yang mendiami pedalaman Kalimantan barat dan utara.
  6. Suku Dayak Ngaju, yang mendiami pedalaman Kapuas, dengan suku-suku kecilnya, yakni: Dayak Lawangan, yang mendiami pedalaman Barito Timur; Dayak Manyan, yang mendiami pedalaman Balangan dan Barito Selatan; Dayak Ot Danum, yang mendiami pedalaman Tumbang Siang, Tumbang Miri, Tumbang Lahang dan sekitarnya.

Munculnya suku Banjar pada tahap selanjutnya, yang mendiami daerah Kalimantan Selatan, adalah keturunan yang lahir dari percampuran orang-orang Melayu dan Jawa serta Olo (orang) Ngaju yang telah bercampur dan menikah selama beberapa generasi di daerah tersebut. Percampuran itu ditambah lagi dengan pendatang lain seperti orang-orang Bugis, China, India dan Arab.

Unsur-unsur animisme, dinamisme, dan spiritisme atau daemonisme yang terdapat dalam kepercayaan Kaharingan, merupakan unsur-unsur yang ternyata masih berpengaruh dalam tradisi kehidupan masyarakat orang Banjar kemudian. Orang Banjar pada umumnya menjunjung tinggi ajaran Islam, tetapi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ibadah dan amaliyah masih banyak yang belum dapat melepaskan diri dari tradisi-tradisi kepercayaan dan agama yang berkembang sebelumnya.

Memasuki abad ke 17, Banjarmasin menjadi bandar perdagangan yang ramai. Hal ini terjadi karena adanya tindakan Kerajaan Mataram yang menyerang dan menghancurkan kota-kota di pantai utara Jawa, sehingga para pedagang pindah secara besar-besaran ke Makasar dan Banjarmasin. Sejak saat itu mulai terjadi perubahan jalan dagang ke Maluku melalui Makasar, Kalimantan Selatan, Patani dan China, atau dari Makasar dan Banten ke India. Orang Banjar pada waktu itu sudah banyak yang melakukan pelayaran berdagang ke luar daerah. Tradisi berlayar ini memberikan kemungkinan kepada orang Banjar untuk melakukan ibadah haji ke Makkah dengan menggunakan kapal-kapal sendiri.

Mereka yang pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah biasanya tinggal beberapa tahun di sana sambil belajar agama Islam. Mereka kemudian pulang dengan membawa pengetahuan dan kitab-kitab dari Makkah. Semakin banyak orang Banjar yang datang dari Makkah semakin banyak pandangan-pandangan baru yang masuk ke daerah ini.

Namun demikian, sampai dengan awal abad ke-18 nilai-nilai baru yang masuk bersama orang-orang Banjar yang datang dari Mekah tersebut tidak banyak nampak di masyarakat. Usaha penyebaran agama Islam yang bersumber langsung dari Makkah tersebut baru dimulai pada pertengahan abad ke-18, yakni oleh seorang ulama kelahiran Martapura yang lebih dari 30 tahun memperdalam ilmu agama di Makkah dan Madinah, yakni Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Perkembangan Islam di Sulawesi

Ribuan pulau yang ada di Indonesia, telah sejak lama terjalin hubungan satu sama lain, baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantarkan aktivitas dakwah dapat menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi.

Menurut catatan perusahaan dagang Portugis yang datang pada tahun 1540, saat mereka datang ke Sulawesi di pulau itu sudah bisa ditemui pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa di Makassar.

Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaudin al-Awwal dan Perdana Menteri atau Wazir, Karaeng Matopa, pada tahun 1603. Sebelumnya, dakwah Islam telah sampai pula pada ayah Sultan Alaudin yang bernama Tonigallo dari Ternate yang lebih dulu memeluk Islam. Namun Tonigallo khawatir jika ia memeluk Islam kerajaannya akan di bawah pengaruh kerajaan Ternate.

Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaudin begitu terkenal karena pemahaman dan aktivitas dakwah mereka. Mereka adalah Khatib Tunggal, Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk Ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar Datuk adalah para ulama dan mubaligh asal Minangkabau yang menyebarkan Islam ke Makassar. Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa pada proses selanjutnya berhasil melanjutkan dakwah hingga ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanete, Luwu dan Palopo.

Perkembangan Islam di Maluku

Kepulauan Maluku yang terkenal kaya dengan hasil bumi yang melimpah membuat wilayah ini sejak zaman dulu dikenal dan dikunjungi para pedagang dari seantero dunia. Karena status itu pula Islam lebih dulu mampir ke Maluku sebelum datang ke Makassar dan kepulauan-kepulauan lainnya.

Kerajaan Ternate adalah kerajaan terbesar di kepulauan ini. Islam masuk ke wilayah ini sejak tahun 1440. Sehingga, saat Portugis mengunjungi Ternate pada tahun 1512, raja Ternate adalah seorang muslim, yakni Bayang Ullah. Kerajaan lain yang juga menjadi representasi Islam di kepulauan ini adalah Kerajaan Tidore yang wilayah teritorialnya cukup luas meliputi sebagian wilayah Halmahera, pesisir Barat kepulauan Papua dan sebagian kepulauan Seram. Ada pula Kerajaan Bacan. Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainul Abidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Di tahun yang sama berdiri pula Kerajaan Jailolo yang juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam dalam pemerintahannya.

Perkembangan Islam di Papua

Beberapa kerajaan di kepulauan Maluku yang wilayah teritorialnya sampai ke pulau Papua menjadikan Islam masuk pula di pulau Cendrawasih ini. Banyak kepala suku di wilayah Waigeo, Misool, dan beberapa daerah lain yang di bawah administrasi pemerintahan kerajaan Bacan. Pada periode ini pula, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala suku di pulau Papua memeluk Islam. Namun dibanding wilayah lain, perkembangan Islam di Papua ini bisa dibilang tak terlalu besar.

Baca :

Perkembangan Islam di Nusa Tenggara

Islam masuk ke wilayah Nusa Tenggara bisa dibilang sejak awal abad ke-16. Hubungan Sumbawa yang baik dengan Kerajaan Makassar membuat Islam turut berlayar pula ke Nusa Tenggara. Sampai kini jejak Islam bisa dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah para muslim sejak semula. Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-orang Bugis datang ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam di sana. Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan bahasa Bugis. [tu]

Perkembangan Islam di Wilayah-Wilayah Nusantara | admin | 4.5