Sejarah Nabi Muhammad di Gua Hira

Sejarah Nabi Muhammad di Gua Hira – Nabi Muhammad saw sudah menjelang usia 40 tahun, beliau makin biasa pergi ke Gua Hira’ melakukan tahannuts, jiwanya sudah penuh dengan iman. Ia telah membebaskan diri dari segala kebatilan. Tuhan telah mendidiknya, dengan sepenuh kalbu ia menghadapkan diri ke jalan yang lurus, kepada kebenaran yang abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan seluruh jiwa raganya agar dapat memberikan hidayah dan bimbingan kepada masyarakatnya yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.

Lama sekali beliau telah berpuasa dan merenung, kemudian beliau juga sering turun dari gua, melangkah ke jalan-jalan di sahara, lalu kembali ke tempatnya berkhalwat, hendak menguji apa gerangan yang berkecamuk dalam perasaannya. Hal serupa itu berjalan selama enam bulan, sampai-sampai ia merasa khawatir akan membawa akibat terhadap dirinya. Oleh karena itu ia menyatakan rasa kekhawatirannya itu kepada Khadijah dan menceritakan apa yang telah dilihatnya.Sejarah Nabi Muhammad di Gua Hira

Tetapi istri yang setia itu dapat menentramkan hatinya, dikatakannya bahwa dia adalah al amin, tidak mungkin jin akan mendekatinya, sekalipun memang tidak terlintas dalam pikiran isteri atau dalam pikiran Muhammad saw, bahwa Allah telah mempersiapkan pilihannya itu dengan memberikan latihan rohani sedemikian rupa guna menghadapi saat yang dasyat yaitu saat datangnya wahyu yang pertama.

Dalam keadaan tidur dalam gua, datanglah malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya : “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad saw menjawab :”Saya tidak dapat membaca”. Malaikat mengulanginya lagi :”Bacalah!” masih dalam ketakutan, menjawab :”Apa yang akan saya baca.” Seterusnya malaikat itu berkata :”Bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. dan Tuhanmu maha pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS. Al ‘Alaq : 1-5)

Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya, cepat-cepat Muhammad saw pergi menyusuri celah-celah gunung. Ia menuruni pegunungan itu masih dalam ketakutan. Dijumpainya Khadijah ia berkata :”Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. tubuhnya menggigil seperti dalam keadaan demam, setelah rasa ketakutan itu berangsur reda dipandangnya isterinya, kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya dan dinyatakannya rasa kekhawatirannya dakan terpedaya oleh kata hatinya, Khadijah berkata : “Wahai putra pamanku, bergembiralah, dan tabahkanlah hatimu, demi dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkan engkau sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.”

Setelah dilihatnya Muhammad saw tidur nyenyak sekali, Khadijah keluar kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Ia menceritakan apa yang pernah dilihat dan didengar Muhammad saw dan menceritakan pula apa yang dikatakan Muhammad saw. Waraqah berkata :”Maha kudus, Dia maha kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah percayalah, dia yang telah menerima seperti yang pernah diterima Musa, dan sungguh Dia adalah Nabi umat ini, katakan kepadanya supaya tetap tabah.

Khadijah pulang, dilihatnya Muhammad saw masih tidur. Dipandangnya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terasa sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan, dan agungkan tuhanmu, bersihkan pakaianmu dan hindari perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (QS. Al Mudassir : 1-7)

Khadijah berusaha menentramkan hatinya, cepat-cepat ia menceritakan apa yang didengarnya dari waraqah tadi. Dengan penuh gairah dan penuh semangat sekali kemudian ia menyatakan dirinya beriman atas kenabiannya itu.

Baca :

Pada suatu hari Muhammad saw pergi thawaf ke ka’bah, ia berjumpa dengan Waraqah bin Naufal. Waraqah berkata : “Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Engkau adalah nabi atas umat ini. Engkau telah menerima wahyu seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah engkau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula.” Lalu Waraqah mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Nabi Muhammad saw. Muhammad saw merasakan adanya kejujuran dalam kata-kata Waraqa dan merasakan pula betapa beratnya beban yang harus dipikulnya nanti. [tu]

Sejarah Nabi Muhammad di Gua Hira | admin | 4.5