Sejarah Peristiwa Kapten Westerling

Sejarah Peristiwa Kapten Westerling – Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).

Sulawesi Selatan bergolak, di mana-mana selalu terjadi pertempuran, Enrekang, Polongbangkeng, Pare-pare, Luwu menjalar ke Kendari, kalaka dengan senjata yang mereka miliki berusaha semaksimal mungkin menangkis serangan Belanda yang bersenjatakan mukhtakhir, dengan keberanian dan tekat yang bersemboyankan “Merdeka atau Mati“.Sejarah Peristiwa Kapten Westerling

Pertempuran bukan hanya dimotori oleh laki-laki, juga wanita/Srikandi-Srikandi di Sulawesi – Emmy Saelan. Srikandi ini bertempur di Kassi-kassi dan jiwa militansinya tercermin dalam tindakannya, dia gugur menjadi martir bagi bumi pertiwi dengan maju ke depan kepungan musuh dengan granat, akhirnya dia gugur bersama-sama dengan musuhmusuhnya terkena pecahan granat.

Sejalan dengan akan diselenggarakannya Konferensi Denpasar pada tanggal 24 Desember 1946 untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT), maka pada tanggal 11 Desember 1946, Belanda menyatakan Sulawesi dalam keadaan perang dan hukum militer.

“Algojo” Raymond Westerling mengadakan pembersihan di setiap desa. Penduduk yang tidak berdosa dibantainya sehingga jatuh korban sekitar 40.000 orang putra-putra terbaik bangsa demi mempertahankan kemerdekaan.

Pengorbanan mereka turut mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pertempuran terjadi tambah sengit dan putra Sulawesi yang dibina di Jawa juga turut memperkuat perjuangan di Sulawesi yang dibina di Jawa juga turut memperkuat perjuangan di Sulawesi Selatan sepeerti Andi Matalata, Wolter Robert Monginsidi yang pantasnya masih studi di bangku sekolah demi panggilan hati nuraninya untuk mempertahankan kemerdekan negerinya terjun ke kancah pejuangan.

Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.

Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya “hanya” 600 orang.

Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.

Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kedaluwarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda. [tu]

Sejarah Peristiwa Kapten Westerling | admin | 4.5
Leave a Reply