Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Songo

Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Songo – Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepas dari peran aktif para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan masyarakat. Di antara Ulama penyebar ajaran Islam Pasca Wali Songo tersebut adalah sebagai berikut:

Syaikh Muhammad Yusuf al-Makassari

Beliau lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H. Ia memperoleh pengetahuan Islam dari banyak guru, di antaranya: Sayid Ba Alwi bin Abdullah al-‘Allaham (orang Arab yang menetap di Bontoala), Syaikh Nuruddin ar-Raniri (Aceh), Muhammad bin Wajih as-Sa’di al-Yamani (Yaman), Ayub bin Ahmad bin Ayub ad-Dimasyqi al-Khalwati (Damaskus), dan lain sebagainya.Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Songo

Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani

Ia merupakan salah seorang ulama terkenal yang berasal dari Sumatra Selatan. Ayahnya adalah seorang Sayid dari San’a, Yaman. Ia dikirim ayahnya ke Timur Tengah untuk belajar. Di antara ulama sezaman yang sempat bertemu dengan beliau adalah: Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, Abdurrahman Bugis al- Batawi dan Daud al-Tatani.

Semasa hidup, Syekh Abdus Shomad tidak hanya aktif dalam berdakwah ke berbagai daerah di Timur Tengah, tetapi juga menjadi seorang penulis yang produktif. Kitabnya sampai sekarang masih dibaca dan dipelajari di Palembang, terutama Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin. Adapun beberapa karangannya adalah:

  • Zuhratul Murid (Mantiq, 1764)
  • Tuhfat al­Raghibin (1774)
  • Urwat al­ Wusqa (Tarekat Sammaniyah)
  • Ratib Abdus Somad
  • Zad al­Muttaqin (Tauhid)
  • Siwatha al­ Anwar
  • Fadhail al­Ihya li al­Ghazali (Tasawuf )
  • Risalah Aurad wa Zikir
  • Irsyadan afdhal al­Jihad
  • Nasihat al-Muslimin wa Tazkirat al-Mukminin fi Fadhail al-Jihad fi Sabilillah (Perang Sabil)
  • Hidayat al­ Salikin (Tasawuf, 1778)
  • Sair as­ Salikin (Tasawuf, 1779­1788)

Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani

Dalam khazanah keilmuan Islam klasik (salafiyyah) di Indonesia (termasuk di dunia), nama Syekh Nawawi al-Bantani jelas sudah tidak asing lagi. Beliau adalah salah seorang putera terbaik Indonesia yang dalam sejarahnya memiliki pengaruh sangat besar di pusat studi keislaman yang saat itu berada di Mekkah. Sebagai guru besar dalam berbagai fan ilmu pengetahuan baik tafsir, fiqih (syariah), tauhid (kalam), lughah (bahasa), maupun adab (sastera), Syekh Nawawi jelas memiliki kapasitas keilmuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh ulama pada masanya di seluruh dunia, paling tidak melalui murid-muridnya. Oleh karenanya, diantara sekian banyak nama putera terbaik Indonesia yang pernah menjadi “kampiun” di pusat-pusat keislaman dunia, nama Syekh Nawawi al-Bantani jelas merupakan tokoh paling sentral.

Dalam kaitan dengan konteks keindonesiaan, beliau dikenal sebagai Bapak Pesantren Indonesia. Meskipun beliau bukanlah pendiri pesantren pertama, tidak pula mengelola pesantren yang cukup besar bahkan sebagian besar waktunya tidak dihabiskan di tanah air, namun tulisan-tulisannya yang berjumlah sekitar 115 buah kitab hampir seluruhya diadopsi di pesantren-pesantren di Indonesia dan menjadi kurikulum utamanya hingga sekarang. Di samping itu, meski berada di Mekkah, melalui murid-muridnya yang berasal dari Indonesia seperti Syekh Kholil waliyyullah (Bangkalan-Madura), KH. Asy’ari (Bawean; murid sekaligus anak menatu Syekh Nawawi dari puteri beliau yang bernama Maryam binti Syekh Nawawi), dan Hadratus Syekh KH. M Hasyim Asy’ari (Tebuireng-Jombang-Jawa Timur; pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama), beliau aktif memantau perkembangan Islam dan politik di Indonesia yang saat itu berada di bawah tekanan kolonial Belanda. Beliau juga banyak menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan bangsa Indonesia. Bahkan, di Mekkah, melalui sebuah perkumpulan yang disebut Koloni Jawa, dengan berbagai ikhtiar dan sumbangsih, beliau aktif membina dan memberdayakan masyarakat Indonesia di sana.

Demikian besar pengaruh Syekh Nawawi al-Bantani, beberapa julukan kehormatan dari Saudi Arabia, Mesir, dan Suriah pun diberikan kepadanya, diantaranya adalah Sayyidu ‘Ulama’ al-Hijaz (Pemuka Ulama Hijaz), al-Mufti (Pemberi Fatwa), dan al-Faqih (Pakar Fikih/orang yang sangat dalam ilmunya). Beliau juga cukup produktif dalam menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam banyak cabang ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika Syekh Nawawi al-Bantani juga mendapat julukan “Si Pena Emas”. Sejarah Hidup Nawawi al-Bantani lahir di kampung Tanara kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 H atau 1813 M. Nama lengkapnya adalah Muhamad Nawawi bin Umar bin Arabiy. Setelah menjadi ulama besar dan tersohor, beliau dikenal dengan nama Syekh Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi ibnu Umar ibnu ‘Arabiy at-Tanari al-Bantani al-Jawi, suatu nama yang secara lengkap menyebut identitas diri dan daerah asalnya. Ayahnya, KH. Umar bin ‘Arabiy, adalah seorang ulama dan penghulu di Tanara. Sedangkan ibunya, Nyai Zubaidah adalah penduduk asli Tanara.

Di masa kecil, Nawawi al-Bantani mengenyam pendidikan dari orang tuanya. Kemudian ia belajar kepada Kyai Sahal (Banten) dan KH. Yusuf (Purwakarta). Pada sekitar usia 15 tahun, ia menunaikan ibadah haji ke Mekkkah dan bermukim di sana selama 3 tahun. Selama itu, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari beberapa syekh di perguruan tinggi di Masjidil Haram, seperti Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Selain itu, ia juga belajar di Madinah di bawah bimbingan Syekh Muhammad Khathib al-Hanbali.

Pada sekitar tahun 1248 H (1831 M), ia kembali ke tanah kelahirannya di Tanara dan mengelola pesantren peninggalan orang tuanya. Namun karena kondisi politik kolonial yang tidak menguntungkan, maka selama tinggal selama 3 tahun di Tanara, ia kembali ke Mekkah dan memperdalam lagi ilmu pengetahuannya kepada Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Yusuf Sumulawaini, dan Syekh Abdul Hamid ad-Daghistani. Di Mekkah, beliau tinggal di perkampungan Syi’b Ali. Selain belajar di Mekkah dan Madinah, beliau juga pernah menimba ilmu pengetahuan di Mesir dan Syam (Siria). Dengan bekal ilmu pengetahuan yang ditekuninya selama sekitar 3 dekade, Nawawi al-Bantani kemudian mengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Murid-murid beliau berasal dari berbagai pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Seorang murid Syekh Nawawi al-Bantani yang bernama Syekh Abdus Sattar ad-Dahlawi menceritakan, bahwa sejak belajar di Mekkah, Madinah, Mesir, dan Siria, beliau (Syekh Nawawi al-Bantani) dikenal sebagai seorang yang sangat bersahaja, taqwa, zuhud, dan tawadlu’ di samping memiliki jiwa dan kepekaan sosial yang sangat tinggi serta bertindak tegas dalam hal kebenaran. Beliau adalah seorang ulama bermadzhab Syafi’iy yang dikenal sangat ahli dalam ilmu tafsir, tauhid, fiqih, lughah, dan juga tasawuf. Pernah suatu ketika beliau diajak berkunjung untuk pertama kalinya ke Mesir oleh Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali (seorang tokoh tarekat Qadiriyah yang juga berasal dari Tanara-Banten). Meskipun beliau (Syekh Nawawi) baru pertama kali ke Mesir, nama beliau saat itu sudah sangat populer dan amat disegani oleh ulama-ulama di sana lantaran tulisan-tulisannya yang banyak dibaca dan dipelajari.

Sesampainya di Mesir, para ulama Mesir bertanya kepada Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali: “Kami telah banyak mendengar tentang seorang ulama asal Jawa di Mekkah yang bernama Syekh Muhammad Nawawi. Tulisan-tulisannya telah berulang-kali dicetak di sini. Sungguh, jika di ibaratkan makanan, tulisan-tulisan beliau sangat lezat rasanya. Kami semua sangat mendambakan bisa bertemu dengan beliau.” Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali lalu memegang pundak Syekh Nawawi dan menjawab: “ Hadza Huwa (inilah beliau)”. Kontan setelah mereka mengetahui Syekh Nawawi berada di tengah-tengah mereka, mereka langsung berrebut mencium tangan beliau. Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun, pada tanggal 25 Syawal 1314 H (1897 M) di kediamannya di Syi’b Ali, Mekkah. Jenazah beliau dikebumikan di pekuburan Ma’la, Mekkah, berdampingan dengan kuburan Syekh Ibnu Hajar al-Haitsami dan Siti Asma’ binti Abi Bakar Ra. Beliau wafat meninggalkan 4 orang puteri : Ruqayyah, Nafisah, Maryam (dinikahkan dengan murid beliau yang bernama KH. Asy’ari – Bawean), dan Zahrah.

Guru-gurunya

Di Mekah, Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.

Murid-muridnya

Murid-muridnya yang berasal dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah: Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki; Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari Nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah.

Karya-karyanya Selama hidup, Syekh Nawawi al-Bantani tidak kurang menulis sekitar 115 buah kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau memang dikenal sebagai ulama yang cukup produktif dan baik dalam hal menulis, sehingga karenanya beliau memperoleh julukan “Si Pena Emas”. Salah seorang murid beliau yang bernama Syekh Abdus Sattar ad-Dahlawi menceritakan, bahwa seringkali beliau mengarang kitabnya itu di sela-sela beliau mengajar para muridnya. Bahkan, ketika beliau wafat pun beliau tengah menyusun syarah (penjelasan) kitab Minhajut Tholibin karya Imam Yahya bin Syarf bin Mara bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum’ah bin Huzam an-Nawawi. Namun karangan tersebut belum sempat selesai hingga beliau wafat.

Hampir seluruh karya beliau yang tersusun dalam bahasa Arab hingga kini masih menjadi bahan pengkajian di banyak pesantren di tanah air. Di samping itu, karya-karyanya juga banyak digunakan di Timur Tengah. Oleh para peneliti dikemukakan bahwa salah satu keistimewaan dari karya-karya beliau adalah keluasan isinya, kelugasan bahasanya sehingga mudah dimengerti dan mampu menjelaskan istilah yang sulit, serta kemampuannya menghidupkan isi karyanya sehingga dapat dijiwai oleh para pembacanya. Di antara nama-nama kitab yang pernah ditulis oleh beliau adalah sebagai berikut :

  1. At Tsimar al­ Yani’ah (Syarh kitab Ar Riyadl al­Badi’ah karya Syekh Muhammad Hasbullah).
  2. Tanqihul Qaul (Syarh kitab Lubabul Hadits karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi).
  3. At Tausyih (Syarh kitab Fath al­Qarib al­Mujib karya Imam Ibnu Qasim al-Ghazi).
  4. Nur ad­Dzalam (Syarh Mandzumah Aqidatul Awam karya Syekh Sayyid Ahmad al- Marzuqi al-Maliki).
  5. At Tafsir al­Munir li Ma’alim at Tanzil (selesai disusun pada malam Rabu, 5 Rabi’ul Akhir 1305 H).
  6. Madarij as­ Shu’ud (Syarh al­Maulid an­Nabawi / al­Barzanji karya Imam al-‘Arif Sayyid Ja’far).
  7. Fath al­Majid (Syarh Ad-Dar al-Farid fi at-Tauhid karya Syekh Ahmad an-Nahrawi).
  8. Fath as­ Shomad (Syarh al­Maulid an­Nabawi / al­Barzanji karya Syekh Ahmad al-Qasim al-Maliki).
  9. Nihayat az­ Zain (Syarh Qurrat al­‘Ain bi Muhimmat ad­Din karya Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari).
  10. Salalim al­Fudhola (Syarh Mandzumah Hidayatu al­ Adzkiya’ karya Syekh al-Imam al-Fadhil Zainuddin).
  11. Muraqi al­‘Ubudiyyah (Syarh Bidayatul Hidayah karya Imam Abu Hamid al-Ghazali).
  12. Sullam al­Munajat (Syarh Safinatus Shalat karya Sayid Abdullah bin Umar al-Hadhramiy).
  13. Nashaihul ‘Ibad (Syarh al­Munbihat ‘ala al­Isti’dad li Yaum al­Mi’ad karya Syekh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad al-‘Asqalaniy).
  14. al­‘Aqd at Tsamin (Syarh Mandzumah Sittina Masalah/Fathul Mubin karya Syekh Mushthofa bin Utsman al-Jawi al-Qaruthi).
  15. Bahjat al­ Wasail (Syarh ar Risalatu al­Jami’ah baina Ushul ad­Din wal Fiqh wa at Tashawwuf karya Sayyid Ahmad bin Zaini al-Habsyi).
  16. Targhibul Musytaqin (Syarh Mandzumah al-Barzanji fi Maulidi Sayyidil Awwalina wal Akhirin karya Syekh Zainal Abidin).
  17. Tijan ad­Darari (Syarh Kitab at Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Bajuri).
  18. Fathul Mujib (Syarh kitab Mukhtashar al-Khothib as-Syarbini fi ‘Ilm al-Manasik).
  19. Mirqatu Shu’udi at Tashdiq (Syarh Sullam at-Taufiq karya Syekh Abdullah bin Husein bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim Ba’lawi).
  20. Kasyifatu as­ Syaja (Syarh Safinatu an-Naja karya Syekh al-‘Alim al-Fadhil Salim bin Sumair al-hadhrami).
  21. Qami’ at Thughyan (Syarh Mandzumah Syu’ab al­Iman karya Syekh Zainudin bin Ali bin Ahmad as-Syafii al-Kusyini al-Malibari).
  22. Al­Futuhat al­Madaniyah (Syarh kitab As­ Syu’ab al­Imaniyah ).
  23. Uqudu li al-Jain fi Bayani Huquqi az-Zaujain.
  24. Fathu Ghafir al-Khathiyah (Syarh Nadzm al­ Ajurumiyah/al­Kaukab al­Jaliyah karya Syekh Abdus Salam bin Mujahid an-Nibrawi).
  25. Qathrul Ghaits (Syarh Masail Abi Laits karya Imam Abi Laits dan al-Mufassir Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim al-Hanafi).
  26. Al-Fushus al-Yaqutiyah ‘ala ar-Raudhah al-Bahiyyah fi al-Abwab at-Tashrifiyah.
  27. Ar Riyadh al­Fauliyah.
  28. Sulukul Jadah ‘ala ar-Risalah al-Musamma bi Lum’atil Mifadah fi Bayanil Jum’ah wal Mu’adah.
  29. An­Nahjah al­Jayyidah (Syarh Mandzumah at Tauhid).
  30. Hilyatus Shibyan ‘ala Fathir Rahman fi at-Tajwid.
  31. Mishbah ad-Dzalam ‘ala al-Manhaj al-Atamm fi Tabwibil Hikam.
  32. Dzari’atul Yaqin ‘ala Ummil Barahin fi at-Tauhid.
  33. al-Ibriz ad-Dani fi Maulidi Sayyidina Muhammad Sayyid al-‘Adnani.
  34. Bughyatul ‘Awam fi Syarhi Maulidi Sayyidil Anam. 83 Sejarah Peradaban Islam Kurikulum 2013
  35. Ad-Durar al-Bahiyyah fi Syarhi al-Khashaish an-Nabawiyah.
  36. Kasyf al­Muruthiyyah ‘an Sattar al­ Ajurumiyah.
  37. Lubabul Bayan fi ‘Ilm al-Bayan (Syarh kitab Risalah fi al-Isti’arah karya Syekh Husein al-Maliki).
  38. Qut al­Habib al­Gharib (catatan atas Syarh at­Taqrib karya Abi Syuja’).
  39. Fathul ‘Arifin.
  40. Ar Risalah al­Jami’ah baina Ushulu ad­Din wal Fiqh wa at Tashawwuf.
Baca :
Semua kitab-kitab di atas, hingga kini masih banyak dikaji di banyak pesantren di Indonesia. Tentu, selain kitab yang telah disebutkan, masih banyak lagi kitab karya Syekh M Nawawi al-Bantani, sebagaimana telah dilansir di atas bahwa jumlah keseluruhan kitab karya beliau berkisar 115 buah kitab dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan. [tu]
Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Songo | admin | 4.5