Sejarah Lengkap Wali Songo

Wali Songo – Wali songo atau wali sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Wali sanga adalah kelompok syiar dakwah Islam (mubaligh) yang kerap juga disebut dengan Waliyullah atau ‘wakil Allah’. Adapun kata songo atau sanga berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan. Sehingga wali songo berarti wali sembilan.

Para wali ini juga memiliki gelar “sunan”. Sunan berasal dari kata Susuhunan yang artinya “yang dijunjung tinggi” atau panutan masyarakat setempat. Ada juga yang mengatakan Sunan berasal dari kata Suhu Nan, artinya Guru Besar atau orang yang berilmu tinggi.

Wali Songo

Wali Songo

 

Teori Hadramaut

Menuru teori ini, para wali songo berasal dari Hadramaut, Yaman. Walaupun masih ada pendapat yang menyebut wali songo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh dari pada sebagai asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif (keturunan Nabi).

Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad al-Baqir dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan , cukup mendukung bahwa wali songo adalah keturunan Hadramaut (Yaman). Selain itu, L.W.C Van Den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans L’archipel Indien (1886) mengatakan:

”Adapun hasil yang nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari para Sayyid atau Syarif. Dengan perantara mereka agama Islam tersiar di antara raja­ raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku­suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid atau Syarif ), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid atau Syarif ) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

Selain itu, Van Den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192­204):

”Pada abad ke­15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang­orang Arab bercampur dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan­jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atas. Rupanya pembesar pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang­orang Arab Hadramaut membawa kepada orang­orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan­peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”

Pernyataan Van Den Berg secara lebih spesifik menyebut abad ke-15 sebagai abad kedatangan atau kelahiran sebagian besar wali songo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al-Habsyi, Al-Hadad, Alaydrus, Al-Attas, Al-Jufri, Syihab, Syahab, dan banyak marga Hadramaut lainnya. Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas muslim di Sri langka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Hal ini bisa dibandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.

Pengamalan madzhab Syafi’i dengan corak tasawuf dan menghormati Ahlul Bait (seperti mengadakan perayaan Maulid Nabi, membaca Diba’ & Barzanji, beragam  Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya) hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh madzhab Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin al-Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan adanya kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan penghormatan terhadap Ahlul Bait (keturunan Nabi). Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan wali songo seperti Raden Fatah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nur Alam Akbar dan banyak lainnya.

Teori Keturunan China (Hui)

Sejarahwan Slamet Muljana mengundang pembahasan kontroversi dalam buku: Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa wali songo adalah keturunan Tionghoa Muslim. Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa wali songo adalah keturunan Arab-Indonesia . Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.

Referensi-referensi yang menyatakan bahwa wali songo berasal dari keturunan Tionghoa sampai saat ini masih menjadi hal yang kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarahwan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. Van Den Berg. Sejarahwan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin Van Bruinessen, bahkan tak pernah sekali pun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. De Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in The 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan. Era wali songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam . Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan.

Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para wali songo ini lebih banyak disebut dibandingkan dengan tokoh yang lain. Pendapat lain mengatakan bahwa wali songo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali dibentuk oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Wali songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka dirasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Adapun beberapa nama wali songo yang populer adalah sebagai berikut:

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo. Ia diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Dalam Babad Tanah Jawi versi Meinsma disebutkan istilah Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap kata As­ Samarqandy. Dalam cerita rakyat, ada yang menyebutnya Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan di akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

Jauh sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara, termasuk di desa Leran. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriyah atau pada tahun 1082 M. Jadi sebelum zaman  Wali Songo, Islam sudah ada di pulau Jawa, yaitu daerah Jepara dan Leran. Tetapi Islam pada masa itu masih belum berkembang secara besar-besaran. Maulana Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Bantal itu diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.

Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian rakyat Gresik sudah ada yang beragam Islam, tetapi masih banyak yang beragama Hindu atau bahkan tidak beragama sama sekali. Dalam Dakwah, Kakek Bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qur’an, yaitu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan petunjuk-petunjuk yang baik serta dialog dengan cara yang baik.

Dari huruf-huruf Arab yang terdapat pada batu nisannya, dapat diketahui bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal, penolong fakir miskin, yang dihormati para pangeran dan para sultan, ahli tata negara yang ulung. Hal itu menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah, yaitu kaum fakir miskin.

Kalimat yang tertulis dimakamnya ialah sebagai berikut: “inilah makam Almarhum Almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para Pangeran, para Sultan dan para Menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan Rahmat Nya dan Keridhaan­Nya, dan dimasukkan ke dalam Surga. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 H.”

Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam. Orang-orang sakit banyak yang disembuhkannya dengan daun-daunan tertentu. Sifatnya yang lemah lembut, welas asih, dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau non-muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang sangat disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.

Sebagai contoh, beliau menghadapi rakyat jelata yang pengetahuannya masih awam, beliau tidak menjelaskan Islam secara rumit. Kaum awam tersebut dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi. Sesudah itu mereka dianjurkan bersyukur kepada yang memberikan rezeki yaitu Allah SWT. Dan untuk mempersiapkan kader umat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa dan seluruh Nusantara, maka beliau kemudian mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon mubaligh.

Tradisi pesantren tersebut tetap berlangsung hingga sekarang. Para ulama menggodok calon mubaligh di Pesantren yang diasuhnya. Bila orang bertanya suatu masalah agama kepada beliau, beliau tidak menjawab dengan berbelit-belit melainkan dijawabnya dengan mudah dan gamblang sesuai pesan Nabi yang menganjurkan agar agama disiarkan dengan mudah, tidak dipersulit, umat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat, ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dari seorang putri Champa yang bernama Dewi Condrowulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming. Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning.

Ajaran Raden Rahmat yang terkenal adalah falsafah Moh Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu:

  • Moh Maen atau tidak mau berjudi.
  • Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan.
  • Moh Maling atau tidak mau mencuri.
  • Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain.
  • Moh Madon atau tidak mau berzina/main perempuan yang bukan istrinya.

Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia. Maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan bahwa ajarannya adalah agama Islam, Prabu Brawijaya tidak  marah, hanya saja ketika dia diajak memeluk agama Islam ia tidak bersedia. Ia ingin menjadi raja Budha terakhir di Majapahit. Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya bahkan di seluruh wilayah Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa. Raden Rahmat pun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Setelah Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se- Tanah Jawa. Beberapa murid dan putera Sunan Ampel sendiri menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati.

Beliau pula yang pertama kali menciptakan huruf pegon atau tulisan Arab berbunyi bahasa Jawa. Dengan huruf pegon ini beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren. Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah Barat Mesjid Ampel.

Sunan Giri (Raden Paku)

Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1412 M. Ia memerintah kerajaan Giri kurang lebih 20 tahun. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan Giri sangat besar terhadap kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagi buktinya adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat pengesahan dari Sunan Giri.

Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama 200 tahun. Sesudah Sunan Giri meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya, yaitu:

  1. Sunan Dalem
  2. Sunan Sedomargi
  3. Sunan Giri Prapen
  4. Sunan Kawis Guwa
  5. Panembahan Ageng Giri
  6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
  7. Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri)
  8. Pengeran Singosari

Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari serbuan Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker. Sesudah pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Meski demikian kharisma Sunan Giri sebagai ulama besar wali terkemuka tetap abadi sepanjang masa.

Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dilantunkan sampai sekarang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden di Belanda menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa berjudul Het Boek van Bonang atau Buku Bonang.Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525. Ia dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang bernama asli Maulana Makdum Ibrahim. Sunan Bonang diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban dan daerah Sempadan Surabaya. Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk setempat. Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi serta piawai dalam memainkan alat musik.

Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarnya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka.

Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya sastra yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Suluk berasal dari bahasa Arab “ Salaka al­ Thariiqa ” artinya menempuh jalan  (tasawuf ) atau tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut wirid.

Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putera Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Sunan Drajat terkenal dengan kegiatan sosialnya. dialah wali yang memelopori penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang Macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.

Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik. Dakwah pertama yang dilakukan oleh Raden Qasim adalah perjalanan menuju desa Jelag. Di sana Raden Qosim mendirikan pesantren. Karena caranya menyiarkan agama Islam yang unik maka banyak orang yang datang berguru kepadanya. Setelah menetap satu tahun di desa Jelag, Raden Qosim berdakwah menuju ke arah selatan, kira-kira berjarak 1 km, di sana beliau mendirikan langgar atau surau untuk berdakwah.

Tiga tahun kemudian secara mantap beliau membangun tempat berdakwah yang strategis, yaitu di tempat ketinggian yang disebut Dalem Duwur. Di bukit yang disebut Dalem Duwur itulah yang sekarang dibangun Museum Sunan Drajad. Adapun makam Sunan Drajad terletak di sebelah barat Museum tersebut.

Beliau mempergunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwah. Di museum yang terletak di sebelah timur makamnya terdapat seperangkat bekas gamelan Jawa, hal itu menunjukkan betapa tinggi penghargaan Sunan Drajad pada kesenian Jawa.

Dalam catatan sejarah wali songo, Raden Qosim disebut sebagai seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walau dalam urusan dunia beliau juga rajin mencari rezeki. Hal itu disebabkan sikap beliau yang dermawan. Di kalangan rakyat jelata beliau bersifat lemah lembut dan sering menolong mereka yang menderita. Di bidang kesenian, di samping terkenal sebagai ahli ukir beliau juga orang yang pertama kali menciptakan Gending Pangkur. Hingga sekarang gending tersebut masih disukai rakyat Jawa. Nama Sunan Drajad disematkan kepada beliau karena beliau bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi, seakan melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau derajat para ulama muqarrobin, ulama yang dekat dengan Allah SWT.

Sunan Kudus

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Nama asli beliau adalah Ja’far as-Shadiq. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad . Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak , yaitu sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Masjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Di samping belajar agama kepada ayahnya sendiri, Sunan Kudus juga belajar kepada beberapa ulama terkenal. Di antaranya kepada Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Ampel. Nama asli Kiai Telingsing ini adalah Ling Sing, beliau adalah seorang ulama dari negeri China yang datang ke pulau Jawa bersama Laksamana Jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, Jenderal Cheng Hoo yang beragama Islam itu datang ke pulau Jawa untuk mengadakan tali persahabatan dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan. Di Jawa, The Ling Sing cukup dipanggil dengan sebutan Telingsing, beliau tinggal di sebuah daerah subur yang terletak di antara sungai Tanggulangin dan sungai Juwana sebelah Timur. Di sana beliau bukan hanya mengajarkan Islam, melainkan juga mengajarkan kepada penduduk seni ukir yang indah. Selanjutnya, Raden Ja’far Shadiq juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syaikh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir Ilir dan Gundul­Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq , menikahi juga Syarifah Zainab binti Syaikh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.

Sunan Kalijaga bernama asli Raden Said. Ayahnya, Tumenggung Wilatikta, walaupun ia termasuk keturunan Ranggawale yang beragama Hindu, tapi Tumenggung Wilatikta sendiri sudah masuk agama Islam. Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama di Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak. Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat kadipaten Tuban yang kerap memeras penduduk atau rakyat jelata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita lantaran musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.

Walau Raden Said putera seorang bangsawan, ia lebih menyukai kehidupan bebas, yang tidak terikat adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah ia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban. Selanjutnya ia bertahun-tahun berguru kepada Sunan Bonang, dengan meninggalkan ayah dan ibunya serta adikknya. Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putera Dewi Rasawulan dan Empu Supa.

Raden Said meneruskan pengembaraannya berdakwah di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat diterima dan dianggap sebagai guru suci se-tanah Jawa. Dalam usia lanjut beliau memilih Kadilangu, Demak, sebagai tempat tinggalnya yang terakhir hingga beliau wafat.

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga, dari istrinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus. Nama Sunan Muria adalah Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengail ikan tidak sampai membuat airnya keruh. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.

Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syaikh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin , juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal wafat oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir, tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar di Timur Tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya di Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah. Syarif Hidayatullah dan ibunya, Syarifah Muda’im, datang ke negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Saat itu, Syaikh Dzatul Kahfi, guru Pangeran Cakrabuana, sudah wafat dan dimakamkan di Pasembangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda’im minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.

Syarifah Muda’im dan puteranya, Syarif Hidayatullah, lalu meneruskan usaha dakwah Syaikh Dzatul Kahfi. Sehingga kemudian hari Syarif Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Tibalah saat yang ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyai Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1479 karena usia lanjut Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan, yaitu orang yang dijunjung tinggi.

Mesjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati atau istri Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid itu melibatkan banyak pihak, di antaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Fatah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan umat. Selesai membangun masjid, diteruskan membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di seluruh tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.

Sekitar tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke daratan China dan tinggal di daerah Nan King. Di sana ia diberi gelar Maulana Insan Kamil. Sunan Gunung Jati akhirnya menikah dengan Putri Ong Thien. Maka tidak heran jika kita berkunjung ke keraton Cirebon atau ke makam Sunan Gunung Jati kita akan menemukan ornamen-ornamen yang berasal dari China.

Pembagian Kerja Dewan Wali Songo

Mengenai pembagian kerja Dewan Wali Songo secara struktural, menurut hasil penelitian Widji Saksono (1996: 97-100) adalah sebagai berikut:

  • Sunan Ampel : Mengurus susunan aturan syariat dan hukum perdata, khususnya berkenaan dengan masalah nikah, talak, rujuk.
  • Sunan Bonang : Merapikan aturan-aturan termasuk di dalamnya kaidah ilmu, selain menggubah lagu, nyanyian maupun gamelan Jawa.
  • Sunan Gresik : Mengubah pola dan motif batik, lurik maupun perlengkapan berkuda.
  • Sunan Drajad : Mengurus hal ikhwal pembangunan rumah maupun berbagai ragam alat angkut.
  • Sunan Muria : Mengurus hal ikhwal perkara masakan (makanan) maupun alat tani dan barang pecah belah lainnya.
  • Sunan Gunung Jati : Selain bertugas memperbaiki doa, mantra bagi pengobatan batin, firasat, jampi-jampi bagi pengobatan lahir, ia juga mempunyai tugas untuk membuka hutan, mengurus transmigrasi atau membuka desa baru (perluasan wilayah).
  • Sunan Giri : Bertugas menggubah perhitungan bulan, tahun, windu, lalu menyusun dan merapikan segala perundang-undangan kerajaan, termasuk urusan protokolernya. Secara teknis Sunan Giri bertugas membuat kertas.
  • Sunan Kalijaga : Bertugas mengurus bidang-bidang seni-budaya, misalkan menggubah dan menciptakan langgam maupun gending.
  • Sunan Kudus : Bertanggungjawab atas perlengkapan persenjataan, perawatan bahan besi dan emas, juga membuat peradilan dengan undang-undang syariat.

Strategi Dakwah Wali Songo

Sebagaimana telah disinggung pada Bab sebelumnya, Islam sudah masuk ke wilayah Nusantara sejak abad ke-7 Masehi, namun baru diminati oleh penduduk asing dari China, Arab dan Persia. Baru pada akhir abad ke-15 hingga paruh abad ke-16 ada sekumpulan tokoh penyebar Islam yang berjuluk.

Wali Songo berhasil mengislamkan penduduk pribumi dengan metode dakwah yang khas, tanpa menimbulkan pergolakan dan penolakan. Wali Songo berhasil menjelaskan apa itu Islam dan seluk-beluknya dengan perangkat-perangkat budaya yang ada dan dapat dihayati oleh masyarakat. Islam “dibumikan” dengan prinsip bil hikmah wal mauidzatil hasanah wajadilhum billati hiya ahsan . Penjelasan mengenai Islam dikemas secara sederhana yang dikaitkan dengan pemahaman masyarakat setempat. Misalnya Sunan Giri bertugas menjelaskan siklus perhitungan kalender dan perubahan hari. Sunan Gunung Jati mengajarkan tata cara berdoa, membaca mantra dan pengobatan. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah. Sunan Kudus mengajarkan cara membuat keris dan kerajinan emas.

Hal penting yang perlu dicatat dalam sukses dakwah Wali Songo adalah corak sufistik dalam ajaran-ajaran mereka. Istilah “wali” itu sendiri sangat lekat dengan kaum sufi atau kajian tasawuf. Corak sufistik dalam hal ini dapat diperbandingkan dengan corak fikih yang serba “hitam-putih”. Ajaran sufi lebih terbuka, luwes dan adaptif dalam menyikapi keberadaan ajaran di luar Islam. Dakwah kultural semacam itu juga dilakukan oleh Sunan Drajat melalui tembang Jawa ciptaannya yang hingga kini masih digemari, yaitu Tembang Pangkur.

Baca :

Sementara Sunan Bonang menghasilkan Suluk Sunan Bonang atau Primbon Sunan Bonang, yaitu catatan-catatan pendidikan yang dituangkan dalam bentuk prosa. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya. Walisongo dikenal sangat peka beradaptasi. Cara mereka menanamkan akidah dan syariat Islam sangat memperhatikan kondisi masyarakat setempat. Misalnya,  kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi sebaliknya acara tersebut diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Demikian juga dengan penggunaan istilah. Sunan Ampel yang dikenal sangat hati-hati, misalnya, menyebut shalat dengan ‘sembahyang’ yang berasal dari kata sembah dan hyang. Dia juga menamai tempat ibadah dengan langgar , yang mirip dengan kata sanggar. Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan ciri khas genteng bertingkat-tingkat. Bahkan, di antara bangunan masjid tersebut memadukan corak bangunan Hindu, seperti Masjid Kudus yang dilengkapi dengan menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon da’i, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren, sebagai pusat pendidikan agama Islam. [tu]

Sejarah Lengkap Wali Songo | admin | 4.5